w1200 - Awalnya Tinggal di Kebun karena Takut Covid-19, Nikolaus Tanam Sayur Kini Berpenghasilan Belasan Juta

Awalnya Tinggal di Kebun karena Takut Covid-19, Nikolaus Tanam Sayur Kini Berpenghasilan Belasan Juta

Posted on

Nikolaus Nakung (48), warga Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, pada Juli lalu, memilih menetap di kebun bersama istri karena takut virus corona.
Pria yang kerap disapa Niko itu menceritakan, 3 bulan lalu, ia menyaksikan tayangan di televisi terkait orang yang dirawat dan mati karena terkena virus corona.

Ia melihat virus corona meningkat tajam di seluruh Indonesia. Selain itu, di kampungnya, sudah banyak orang yang pulang dari zona merah.

Loading...

Selain karena takut orang yang baru datang dari luar daerah, Niko sudah kehilangan pekerjaan pokoknya sebagai pekerja proyek.

Itu disebabkan bosnya yang adalah kontraktor tidak mendapatkan proyek di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

“3 bulan lalu itu, virus corona naik tajam sekali angkanya. Karena khawatir terkena virus, saya dan istri memutuskan tinggal di kebun. Kami pikir, di kebun paling aman dari virus karena tidak berhubungan dengan siapa-siapa termasuk orang yang baru pulang dari luar daerah,” tutur Niko, kepada Kompas.com di kebunnya, Selasa (27/10/2020).

Niko melanjutkan, 2 minggu pertama di kebun, putra mereka yang sedang duduk di bangku SMA di Borong, menganjurkan agar menanam sayur di kebun yang masih kosong itu.

Sebagai orangtua, Niko menerima baik anjuran dari sang anak. Tetapi, ia tidak bisa langsung mewujudkannya.

Mereka mengalami kendala di bibit sayur. Mau ke kota untuk membeli bibit, tidak berani. Ia takut dengan wabah corona.

Suatu sore, Niko menjumpai keponakannya bernama John. John sendiri adalah alumni sarjana pertanian.

Selama ini, ia bekerja sebagai distributor pupuk NPK di Kabupaten Manggarai Timur. Niko pun mengutarakan niatnya untuk menanam sayur dan butuh bibit.

John menyambut baik rencana pamannya. John pun berjanji akan menyiapkan bibit sayur untuk ditanam di lahan milik Niko.

Sambil menunggu ada bibit, Niko bersama sang istri membersihkan lahan yang sebelumnya tidak digarap. Mereka membuat bedeng di tanah seluas 25 kali 50 meter.

Niko menceritakan, beberapa hari kemudian, John membawa benih sawi putih. Setelah menerima benih tersebut, ia lalu menyemainya di bedeng berukuran kecil.

Sambil menunggu menjadi kecambah, ia dan sang istri menggembur tanah dan membuat pupuk organik dari kotoran kambing dan daun hijau.

Dua minggu kemudian, Niko mulai menanam. Awalnya dia menanam seribu lebih bibit sayur sawi putih.

“Dari situ, belum sampai usia 2 bulan, sayur itu habis dibeli masyarkat. Padahal, sayurnya belum bisa dipanen. Masuk bulan ketiga, saya kewalahan. Animo masyarakat membeli sayur langsung di kebunnya semakin besar. Sampai, stok sayur sudah sedikit dari permintaan. kosong. Permintaan sayur dari masyarkat semakin meningkat. Dari waktu ke waktu, semakin banyak masyarkat yang datang langsung membeli sayur di lokasi,” ungkap Niko.

Niko mengatakan, keponakannya membantu mengunggah sayur-sayur itu di media sosial. Masyarkat di desanya tersebut langsung datang ke lokasi membeli sayur.

Terkadang, ia memberi kesempatan kepada pembeli untuk memilih dan mencabut sendiri sayur sesuai keinginan.

”Satu hari penghasilan saya bisa Rp 900.000. Itu hasil dari anak-anak jual pakai motor dari kampung ke kampung dan yang datang beli sendiri di kebun. Dua bulan pertama saya bisa dapat belasan juta dari sayur ini,” kata Niko.

Saat ini, permintaan sayur dari masyarakat lebih banyak dari stok sayur yang tersedia di kebunnya.

Selain menanam sawi, ia mulai menanam tomat, terung, wortel, cabai, kacang panjang, pokcoy.

“Harapannya dengan tambah jenis sayur-mayur ini, penghasilan bisa bertambah. Ini mimpi besar saya,” ungkap Niko.

Dengan melihat hasil yang cukup dari tanam sayur itu, kini ia mulai fokus membaktikan dirinya untuk menjadi petani hortikultura.

“Mungkin lewat pandemi ini saya disadarkan, kami memiliki potensi pertanian yang cukup, asalkan mau bekerja dan fokus. Bagi saya, ini berkat bagi keluarga saya di tengah pandemi ini. Karena selama belasan tahun, saya menggantungkan hidup dengan bekerja jadi proyek di luar kampung. Padahal, di tanah sendiri ada potensi yang luar biasa, termasuk menanam dan menjual sayur,” ungkap Niko.

Selain menanam tanaman hortikultura, di kebun itu ia juga memelihara ternak babi dan kambing. Ia menjadikan kotoran babi dan kambing tersebut untuk membuat pupuk organik.

Niko mengatakan, pencapainnya hingga saat ini, berkat dukungan banyak orang.

“Saya hanya bisa ucapkan terima kasih. Semoga kita semua aman dari wabah virus corona,” tutup Niko.

Penulis: Kontributor Maumere, Nansianus TarisEditor: Robertus Belarminus

Leave a Reply